Masih terbayang jelas di benakku semua rencana yang ingin kulakukan di week end ini…Ada banyak hal yang ingin kukerjakan, banyak tempat yang ingin kukunjungi, dan banyak orang yang ingin kutemui… semua kususun karena tahu sisa week end di bulan Mei ini mau tak mau akan kuhabiskan dengan urusan kantor di luar kota…Fully booked! Hehee! Makanya aku semangat sekali menyusun semua rencana itu, aku tidak mau bulan Mei ini terlewati begitu saja tanpa ada hal berkesan yang bisa kunikmati diluar pekerjaan (Well…aku tahu 2 kali weekend ke depan akan kunikmati juga walau judulnya “nasib kuli”!;p)
Tapi memang benar adanya bahwa manusia hanya bisa berencana…dan Tuhan yang menentukan segalanya…karena aku harus pasrah semua rencana itu hanya tinggal rencana…
Hari Sabtu kuawali dengan bangun siang (hohoo..surgaaaa!;p)…rencana kedua yaitu menghadiri pernikahan salah satu temanku…dan semuanya terhenti disitu…
Entah bagaimana kronologis pastinya, yang aku ingat hanyalah saat motor yang kunaiki dengan seorang teman tiba2 sudah berada beberapa cm saja (catat : BEBERAPA CENTI) dari motor di hadapan kami (maaf kalau tak kusebutkan nama temanku itu, aku yakin dia keberatan namanya ada di curhatan seorang perempuan sepertiku!). Tak ada waktu untuk rem atau menjauh…yang bisa dia lakukan hanya sebisa mungkin menghindari kecelakaan yang parah…dan kami terjatuh ke sebelah kanan, untungnya jalanan tidak terlalu padat waktu itu sehingga tidak terjadi hal yang untuk membayangkannya saja aku tidak sanggup. Yang kuingat kami sudah tersungkur di jalanan aspal. Begitulah…dengan perasaan ‘melayang’ kami meminggirkan motor tanpa memperdulikan keadaan kami sendiri. Dia bertanya padaku “Kamu nggak apa2?”, “Nggak” jawabku dan langsung balik bertanya “Kamu nggak apa2?”, “Nggak” juga jawabnya. Nggak apa2 bagaimana! Jelas2 kami jatuh! Hahaaaa..! Mungkin apa yang ada dipikirannya sama denganku…tidak mau membuat masing2 kuatir…padahal jujur saja aku sangat shock, badanku gemetaran, dan luka di kaki dan tanganku terasa perih!
Balik lagi ke rumah untuk mengobati luka dan mengganti sandal yang patah haknya, aku berjalan normal agar orang rumah tidak curiga. Sembunyi2 mengambil Betadine, kapas dan air hangat, aku berharap orang rumah tidak tahu apa yang terjadi. Bisa dibayangkan reaksi mereka jika tahu?? Hal yang paling kutakuti adalah jika keluar ultimatum “Nggak boleh naik motor lagi!!”. Hehee, no way!!;p
Hhhh…apanya yang nggak apa2! Temanku itu memang terlihat baik2 saja, tapi lututnya luka2 cukup banyak. Lukaku memang sedikit, tapi karena cukup dalam jadi terasa cukup menyakitkan. Selesai mengobati dan mengkonfirmasi teman2 yang lain mengenai keterlambatan ini, kami pun berangkat lagi seolah2 tidak terjadi apa2 sebelumnya. Ketika teman2 bertanya, “Jatuhnya kenapa?”…aku benar2 tidak tahu apa sebabnya…dan aku juga tidak berniat mempertanyakan itu pada temanku…toh dia juga tidak pernah memulai ‘pembahasan’ itu sepanjang perjalanan…mungkin pikirnya itu tidak ada gunanya…Lagipula untuk apa juga kan…sudah terjadi! Lebih2 aku juga merasa mungkin itu akan membuatnya tidak nyaman. Well, walaupun itu memang murni kecelakaan, tapi ‘membawa’ anak gadis orang jatuh dari motor terasa cukup ‘shocking’ pasti! Hehee!;p
Kami berdua memang bisa bersikap seperti biasa…tapi aku tahu dalam hati kami masih sama2 “shock” dengan kecelakaan tadi…Tidak membahas itu sedikitpun menjadi pilihan kami, bahkan pertanyaan “masih sakit nggak” pun tidak keluar dari mulut kami. Aneh? Yeah, mungkin karena kami sama2 ingin terlihat sok kuat (oh yeah, aku hapal karakter kami yang 1 ini!;p)…atau kami sama2 ingin melupakan kejadian itu secepat mungkin…atau mungkin juga karena kami sama2 tidak enak hati! Heheee…entahlah! Lazimnya kan setelah itu kami membahas kronologis kok bisa jatuhnya, keadaan luka kaminya, psikologis kaminya setelah itu , dll…Tapi kami tidak melalukan itu. Diam, tersenyum (ini sih hanya aku), and act like nothing happened. Masih aneh? Well…I couldn’t answer anymore then!=)
Seperti dugaanku, efeknya baru terasa malam harinya, lukaku jadi terasa sangat perih dan nyut2an, dan kakiku mulai membengkak, tidak bisa menggunakan sandal atau sepatu karena sakit sekali jika tertekan. Badan ku juga mulai terasa ngilu2, dan memar2 mulai terlihat…Damn! Padahal kelihatannya kami jatuh tidak parah sama sekali lho…lukaku juga hanya terlihat biasa saja…tapi efeknya separah ini ya…
Dan semua rencana yang sudah kususun untuk Sabtu-Minggu ini pun pupus semuanya… =(
Akhirnya Mamahku yang kegirangan karena jarang2 aku ada dirumah (baik weekday ataupun weekend)! Heheee! Dia sempat bertanya melihat plester di kaki dan tanganku, dan aku bilang “Tadi kesandung tangga di parkiran, jatoh deh, biasaaaa…Teteh kan cegos! (*ceroboh dalam bahasa Sunda)” sambil ngeloyor pergi (aku takut dia bisa melihat kebohongan dimataku). Dia ber-“Ooh!”, walaupun aku yakin dia tidak sebodoh itu dan tahu dengan pasti bahwa aku menyembunyikan sesuatu, tapi Mamah bukan tipe orang yang akan membahas sesuatu yang tidak ingin kubahas. (Thank God!)
Aku belum tahu lagi kabar temanku itu... Yah, semoga dia tidak merasakan perih, memar dan ngilu2 seperti yang kurasakan. (Tapi rasanya tidak mungkin! Jelas2 dia yang nyetir, pasti dia yang lebih parah dari aku lah!). Apapun yang terjadi padanya, aku berdoa agar dia segera baik2 saja…Amien Ya Allah!
Sampai sekarang aku tidak berhenti berterima kasih pada Allah karena telah memberikan keselamatan dan perlindungan pada kami. “Orang Sunda mah selalu gitu! Celaka juga tetep aja ada ‘untungnya’!”, protes sahabatku di telfon mendengarku bilang “untung nggak parah, untung nggak ada mobil dibelakang kita, untung cuma hak sandal yang patah, untung masih bisa bangun, untung bla-bla-bla…”. Hahaaaa…yaiyalaaahh…kita harus tetap bersyukur bukan?;p
Tidak terbayang jika Allah tidak melindungi kami…mungkin tidak seringan ini kecelakaan yang kami alami. Allah masih sayang padaku ternyata…Heee… =)
“Ya Allah…terima kasih untuk perlindungan dan keselamatan yang telah Engkau berikan pada kami…Maafkan kami jika ini adalah teguran dari-Mu…Terima Kasih…untuk hidup dan nyawa yang masih Engkau percayakan kami untuk memilikinya…Terima Kasih…”
Well…ternyata memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari seorang ibu…Minggu sore dia memintaku membelikan sesuatu ke depan kompleks…Dan aku hanya bisa terdiam, melongo…Bagaimana iniiiiii…kakiku bengkak dan tak sanggup memakai sandal jepit sekalipun…Otakku secepat mungkin berputar mencari alasan yang masuk akal untuk menolak…Tapi dia menatap mataku…Belum sempat aku berucap dia sudah berkata “terus kenapa itu hak sandal bisa sampe patah??”. Damn! Aku lupa membuang sandal itu! Aku tahu kesandung tangga parkiran tidak lagi bisa kujadikan alasan karena dari raut mukanya jelas dia tidak lagi percaya dan meminta kejujuranku…Fiiuhh..!! No more hiding! “Jatuh dari motor Mah…” Jawabku sambil tersenyum bodoh. Seperti dugaanku beribu pertanyaan dia keluarkan, mulai dari kenapa, dimana, gimana, dll. Aku berusaha menjelaskan dengan sesantai mungkin, berharap dia akan percaya bahwa ini hanya kecelakaan yang sangat ringan dan aku baik2 saja. “ Dia juga cuma luka2 aja sedikit di lutut sama siku kok Mah…Kmaren waktu balik lagi tadinya dia mau bilang sama Mamah tapi aku bilang nggak usah, nggak apa2!” ujarku saat dia menanyakan keadaan temanku. Diluar dugaan dia bilang “Ya udah lain kali hati2 kalau naik motor teh!”. Yess!! No ultimatum! Hohooo!;p
Absen ngantor di hari Senin membuatku bosan…nggak bisa kemana2 dan nggak bisa ngapa2in dari hari Sabtu itu membuatku bete setengah mampus! Tapi aku jadi banyak berpikir tentang banyak hal…hal2 yang tidak bisa kuceritakan disini…Selalu ada hikmah dan pelajaran!=)
Ps : Orang bilang nggak afdol kalau bisa naik motor tapi nggak pernah jatuh…dan sepanjang sejarah perjalananku mengendarai motor sejak SMP, ini pengalaman pertama aku jatuh (hope it was the last!!). Sebenarnya ngenes juga sih karena jatuhnya saat aku dibonceng dan bukan saat aku nyetir... Tapi apapun itu, berarti aku sudah ‘sah’ donk ya jadi pengendara motor?? Hahaaaa..!=D